Apakah “Hijau” Selalu Berarti Baik?
Kembali ke Artikel
Berita

Apakah “Hijau” Selalu Berarti Baik?

Risyad Addiva
26 Juli 2026
6 tayangan

Selama awal abab 21 ini banyak muncul istilah hijau seperti: energi hijau, ekonomi hijau, inflasi hijau dan yang lainnya. Tapi yang kita dengar tidak selalu kabar baik dari konsep “hijau” ini, nyatanya selalu ada selingan masalah di dalamnya seperti proyek Geothermal, tambang nikel untuk batu memenuhi kebutuhan batu baterai. jadi….

Apakah Energi Ramah Lingkungan Selalu Ramah Sosial?

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi jawabannya tidak pernah sesederhana panel surya di atap rumah subsidi.

Kita hidup di era di mana kata “hijau” seolah menjadi cap halal untuk segalanya. Energi terbarukan, kendaraan listrik, bahan bakar nabati — semua dikemas dalam narasi yang sama: ini untuk masa depan yang lebih baik. Tapi masa depan yang lebih baik bagi siapa, dan atas pengorbanan siapa?

Di sinilah ilmu sosial dan ilmu alam perlu duduk satu meja. Bukan untuk saling mengalahkan, tapi untuk menemukan win-win solution yang selama ini lebih banyak hidup di dalam dokumen kebijakan ketimbang di lapangan.

Kendaraan Listrik dan Harga yang Dibayar Sulawesi

Mari mulai dari yang paling sering dirayakan: kendaraan listrik (EV). Emisinya lebih rendah, katanya bersih, katanya solusi. Dan memang benar — kalau kita hanya melihat knalpotnya yang tidak mengepul.

Tapi coba tengok ke Sulawesi Utara, Halmahera, dan kini Raja Ampat. Nikel — bahan baku utama baterai EV — ditambang dari sana. Hutan dibuka, laut tercemar, dan masyarakat adat yang sudah berabad-abad hidup berdampingan dengan alam tiba-tiba harus berhadapan dengan smelter dan perusahaan tambang.

Jadi ketika seseorang di Jakarta atau Berlin merasa bangga mengisi daya mobilnya dengan listrik “hijau”, ada yang membayar harganya di ujung timur Indonesia. Hanya saja suaranya tidak terdengar sampai ke showroom EV.

Sawit: Ketika Semua Pohon Dianggap Sama Kemudian ada minyak sawit — sang biofuel yang diklaim sebagai pengganti bahan bakar fosil yang lebih ramah lingkungan.

Jutaan hektar hutan hujan tropis yang kaya keanekaragaman hayati — dengan segala lapisan ekosistemnya, manusia yang tinggal di dalamnya, dan fauna yang bergantung padanya — telah berganti menjadi perkebunan sawit yang seragam dan sunyi.

Memang sama-sama pohon. Tapi ada perbedaan yang cukup mendasar antara hutan heterogen yang menyimpan karbon, air, dan kehidupan, dengan kebun monokultur yang hanya menyimpan tandan buah segar. Sebuah perbedaan yang rupanya tidak selalu terlihat dari ketinggian helikopter pejabat.

Geothermal: Energi Bumi yang Prosesnya Tak Selalu Membumi

Panas bumi adalah salah satu energi terbarukan yang paling menjanjikan. Bersih, stabil, dan tersedia 24 jam tanpa bergantung pada cuaca. Secara teknis, ini hampir sempurna.

Sayangnya, “sempurna” di atas kertas seringkali bertemu “bermasalah” di lapangan. Lokasi panas bumi tidak bisa dipindahkan — ia ada di mana bumi memutuskan untuk panas, dan itu seringkali berada di wilayah yang sudah lebih dulu dihuni: kawasan hutan lindung, tanah adat, atau daerah dengan ekosistem sensitif.

Dan proses pembangunannya? Kerap diwarnai pemaksaan, minimnya ruang partisipasi warga, hingga tindakan represif terhadap mereka yang mencoba bersuara. Energi yang dihasilkan memang bersih — tapi proses membangunnya tidak selalu demikian.

Lalu Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi?

Ada pola yang berulang di semua kasus ini: beban lingkungan dan sosial ditanggung oleh komunitas yang paling rentan, sementara manfaatnya dinikmati oleh mereka yang sudah lebih sejahtera.

Ini bukan berarti energi terbarukan itu buruk. Transisi energi adalah keharusan — krisis iklim nyata dan mendesak. Tapi “terbarukan” dan “berkelanjutan” tidak otomatis berarti “adil.”

Pendekatan multidisipliner — yang menggabungkan ilmu lingkungan, teknologi energi, antropologi, ekonomi, dan ilmu politik — dibutuhkan justru karena masalah ini tidak bisa diselesaikan dari satu sudut pandang saja. Insinyur bisa membangun turbin. Tapi hanya dengan mendengar komunitas lokal, kita bisa tahu apakah turbin itu seharusnya dibangun di sana.

Conclusion

Jadi apakah kita perlu transisi energi?. ya, kita perlu. Tapi itu bukanlah pertanyaan utamanya disini melainkan

siapa yang menentukan di mana, bagaimana, dan untuk siapa energi itu diproduksi?

Apakah masyarakat yang tanahnya digunakan punya suara yang benar-benar didengar — bukan sekadar sosialisasi satu arah sebelum alat berat masuk? Apakah keuntungan dari energi “hijau” ini kembali juga ke mereka yang menanggung risikonya?

Dan yang mungkin paling penting: apakah kita benar-benar serius membangun masa depan yang lebih baik, atau hanya sedang memindahkan kerusakan dari satu tempat ke tempat lain yang lebih jauh dari pandangan kita?

Tags:lingkungangreen economy