Barangkali, Kita Terlalu Banyak Membawa
Kembali ke Artikel
Berita

Barangkali, Kita Terlalu Banyak Membawa

Risyad Addiva
26 Juli 2026
12 tayangan

Suatu pagi saya melihat seorang bapak berangkat ke sawah. Di pundaknya hanya ada cangkul. Di tangan kirinya sebungkus nasi yang dibungkus daun pisang. Di pinggangnya terselip sebotol air minum. Tidak lebih.

Saya membayangkan, bagaimana jadinya jika ia memaksakan membawa seluruh isi rumah. Lemari, televisi, kursi tamu, hingga tumpukan pakaian. Bukankah semua itu juga miliknya?

Tentu ia tidak akan sampai ke sawah.

Barangkali, sejak awal para petani telah memahami sesuatu yang sering luput dari kita. Memiliki tidak selalu berarti harus membawa.

Semakin bertambah usia, kita justru semakin pandai mengumpulkan. Informasi kita simpan, pengalaman kita kumpulkan, pendapat orang kita hafalkan, kritik kita ingat bertahun-tahun, pujian kita rawat diam-diam. Kita mengira semua itu akan membuat hidup menjadi lebih kaya.

Padahal, jangan-jangan yang membuat kita lelah bukan karena perjalanan terlalu jauh, melainkan karena terlalu banyak barang yang kita pikul.

Beberapa waktu terakhir saya menghabiskan hari-hari dengan meneliti peramalan curah hujan. Dunia penelitian memang dipenuhi istilah-istilah yang terdengar rumit. Ada algoritma, model, variabel, hingga berbagai ukuran akurasi yang bagi sebagian orang mungkin terasa asing.

Namun di balik semua itu, saya justru menemukan pelajaran yang sangat sederhana.

Ternyata, mesin tidak selalu menjadi lebih cerdas ketika diberi lebih banyak informasi.

Awalnya saya juga berpikir demikian. Bukankah semakin banyak data seharusnya semakin baik? Bukankah semakin banyak variabel seharusnya semakin membantu model memahami kenyataan?

Ternyata tidak.

Dalam penelitian tersebut, saya mencoba membuat berbagai variabel baru agar model mampu membaca pola hujan dengan lebih baik. Sebagian variabel berhasil membuat prediksi menjadi lebih akurat. Tetapi ketika semuanya dipakai sekaligus, ada beberapa yang justru menambah kebisingan. Model menjadi bekerja lebih keras, tetapi tidak benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.

Lalu saya mulai menyaring.

Satu demi satu.

Bukan berdasarkan mana yang paling menarik, tetapi mana yang benar-benar memberi pengaruh.

Yang mengejutkan, hasil terbaik justru muncul ketika sebagian variabel dilepaskan. Model yang menggunakan lebih sedikit informasi ternyata mampu menghasilkan prediksi yang lebih baik daripada model yang membawa semuanya.

Saat melihat hasil itu, saya merasa sedang membaca sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar angka.

Bukankah hidup kita juga sering seperti itu?

Kita bangun pagi sambil membawa komentar orang yang bahkan sudah diucapkan bertahun-tahun lalu. Kita memikirkan penilaian orang yang mungkin sudah lupa pernah mengatakannya. Kita mengulang kegagalan yang sebenarnya sudah selesai. Kita menyimpan kemarahan yang tak lagi mengenal alasan mengapa ia tetap tinggal.

Semua memenuhi kepala. Sedikit demi sedikit. Lalu kita bertanya mengapa hidup terasa berat. Barangkali persoalannya bukan karena hidup terlalu rumit. Mungkin kepala kita terlalu penuh.

Saya sering membayangkan pikiran manusia seperti ruang tamu di sebuah rumah. Tidak semua orang yang datang harus dipersilakan tinggal. Ada tamu yang cukup disambut, diajak berbincang sebentar, lalu diantar pulang. Ada pula tamu yang memang pantas diberi tempat karena kehadirannya membuat rumah terasa lebih hangat.

Informasi pun demikian.

Hari ini kita membaca ratusan judul berita. Melihat puluhan video pendek. Mendengar begitu banyak pendapat. Semua berebut meminta perhatian. Seolah-olah semuanya penting.

Padahal belum tentu.

Ada informasi yang membuat kita bertumbuh. Ada informasi yang hanya membuat kita gaduh.

Begitu juga dengan lingkungan.

Sering kali kita mengukur pergaulan dari jumlah orang yang kita kenal. Semakin luas relasi, semakin merasa berhasil. Padahal, seperti variabel dalam sebuah model, tidak semua hubungan memberi kontribusi yang sama terhadap hidup kita.

Ada orang yang membuat kita pulang dengan semangat baru. Ada yang membuat kita berani mencoba lagi setelah gagal. Ada yang tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya selalu mengingatkan kita untuk tetap menjadi manusia yang baik.

Namun ada pula lingkungan yang perlahan membuat kita terbiasa mengeluh, terbiasa membandingkan diri, bahkan terbiasa menganggap sinisme sebagai kecerdasan.

Pertanyaannya mungkin bukan lagi, “Dengan siapa kita sering bertemu?”

Tetapi, “Siapa yang diam-diam sedang membentuk cara kita memandang hidup?”

Gunung mungkin sudah lama mengajarkan pelajaran ini.

Pendaki yang baru pertama kali berangkat sering kali membawa terlalu banyak barang. Semua terasa penting. Semua terasa mungkin akan dibutuhkan.

Baru setelah beberapa kali mendaki, ia mulai mengerti bahwa perjalanan bukan soal seberapa banyak yang mampu dibawa, melainkan seberapa bijak memilih apa yang benar-benar diperlukan.

Anehnya, pelajaran sederhana itu sering kita tinggalkan ketika kembali ke kehidupan sehari-hari.

Kita masih gemar mengumpulkan. Jarang menyaring.

. . .

Mungkin menjadi dewasa bukan tentang terus menambah isi kepala. Bukan pula tentang mengenal semakin banyak orang atau menguasai semakin banyak hal.

Barangkali menjadi dewasa adalah belajar memilih.

Memilih informasi yang layak dipercaya.

Memilih lingkungan yang membuat kita bertumbuh.

Memilih pikiran mana yang perlu disimpan, dan mana yang sebaiknya dilepas sebelum berubah menjadi beban.

Sebab, sebagaimana model yang saya bangun dalam penelitian itu, hidup tampaknya tidak selalu membutuhkan lebih banyak.

Kadang ia hanya membutuhkan sesuatu yang lebih relevan.

Dan mungkin, di situlah letak kebijaksanaan. Bukan pada kemampuan mengumpulkan sebanyak mungkin, melainkan pada keberanian menyisakan hanya hal-hal yang benar-benar membantu kita sampai ke tujuan.

Tags:self devlopmentmachine learning